https://www.elementbike.id/data/selotgacorku/https://karanganbungacilacap.com/https://elearning.ittelkom-sby.ac.id/group/s1/http://lms.sipil.ft.unand.ac.id/layouts/https://simpenmas.untirta.ac.id/panduan/-/https://lms.pelni.co.id/img/produk/https://2024.pakbejo.jatengprov.go.id/img/https://danaabadi.its.ac.id/web/-/sgacor/https://etakah.upnvj.ac.id/dive/assets/images/avatar/https://djppi.kominfo.go.id/storage/images/posts/71616whnddshdsn/dgacor/https://iqra.umpalopo.ac.id/lang/en/fonts/demo/https://elearning.uinsatu.ac.id/mahasiswa/https://www.jakarta.go.id/uploads/kcor/https://funlearning.itk.ac.id/file/-/sgacor/https://simpeg.slemankab.go.id/folder/-/tgacor/https://kapal.kkp.go.id/sicefi/assets/dokumen_lampiran/kcor/
Persiapan | Kesultanan Sumbawa

MUSAKARA

Persiapan

Menjelang perhelatan adat Samawa Musakara Rea 2022, Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV menyampaikan pasatotang (nasehat) kepada seluruh masyarakat Sumbawa terkait dengan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh Tau Tana Samawa yang masih relevan hingga saat ini. Disampaikan di Istana Bala’ Kuning (26/10) seusai shalat Isya, petuah ini terasa sangat dalam menyentuh hati nurani kita semua.

Dalam kesempatan ini, Sultan Sumbawa menegaskan kembali sikap dan pandangan beliau terhadap Adat Samawa agar dapat dipahami dan diendapkan dalam pemikiran Tau Samawa semua bahwa Adat Samawa di masa kini tidak boleh kita pahami dengan saklek, kaku, dan tidak dapat diganggu gugat. Justru beliau melihat bahwa perlu ada cara pandang baru dalam memahami dan mengimplementasikan Adat Samawa dalam kehidupan kita hari ini.

“Saat saya bersumpah di hari penobatan, saya meneguhkan hati dan menjernihkan pemikiran bahwa kita tidak akan kembali ke masa lalu sepenuhnya karena tantangannya sangat berbeda menjadi Sultan di masa sekarang dengan di masa Jaja (ayah) atau Jape (kakek) saya. Perlu saya ingatkan bahwa kita telah menyatakan diri untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak 13 April 1950. Ini artinya, Kesultanan Sumbawa menjadi bagian dari NKRI sejak saat itu. Di masa lalu, simbol dan pemerintahan dipegang oleh Kesultanan Sumbawa, sehingga Sultan dapat mengangkat pangkat adat untuk menjalankan roda pemerintahan. Saat ini, ada Bupati sebagai pemegang pemerintahan di dalam wilayah Kabupaten Sumbawa. Lalu apa tugas seorang Sultan Sumbawa di masa kini? Tugas saya adalah sebagai pengayom adat Tau Tana Samawa dan bersama Bupati dan masyarakat Sumbawa, kita harus menjaga Marwah Tau Samawa,” tegas Sultan Muhammad Kaharuddin IV.

Berikut bunyi pasatotang Sultan Muhammad Kaharuddin IV:

Assalamu’alaikum wahmatullahi wabarakatuh,

Musakara Rea merupakan hajatan sekitar lima tahunan yang diselenggarakan oleh Lembaga Adat Tana Samawa yang bertujuan untuk merumuskan pemikiran-pemikiran kita ke depan dalam membaca kemungkinan-kemungkinan perubahan yang terjadi karena adanya perkembangan sains dan teknologi.

Sebagai lembaga adat, LATS terbuka untuk semua Tau Samawa yang mau berkontribusi dalam memajukan adat dan budaya Samawa, tentu saja dengan persyaratan antara lain dia memiliki pengetahuan, kemampuan, ikhlas bekerja, dan mau bekerja bersama-sama.

Berbicara tentang adat Tana Samawa, saya harus menegaskan bahwa kita tidak kembali ke masa lalu seutuhnya, tetapi kita tetap bisa mengambil nilai-nilai yang masih relevan. Nilai-nilai ini akan kita gunakan untuk bisa beradaptasi dengan zaman yang cepat berubah sehingga dapat mencapai Kerik Selamat Tau Ke Tana Samawa.

Saya ingin mengingatkan kepada kita semua agar tetap menjaga tegaknya Marwah Tau Samawa dalam menjalin hubungan antar manusia agar kita tetap saling menghormati, menghargai keberagaman, dan menjaga toleransi dan keharmonisan dalam hidup ini.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Istana Bala’ Kuning, 26 Oktober 2022

Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV

Lebih detail, Sultan Muhammad Kaharuddin IV menyampaikan bahwa sebagai lembaga adat, LATS berifat terbuka bagi siapa saja yang memiliki pemikiran dan niat yang jernih untuk memajukan adat dan budaya Sumbawa. Untuk itu, secara khusus beliau mengatakan bahwa keterlibatan generasi muda dan kaum perempuan dalam LATS harus diapresiasi.

“Adat menurut saya sederhana saja. Jangan lagi kita berpikir hanya membanggakan garis keturunan kita di masa lalu untuk menunjukkan siapa kita hari ini. Bangsawan tidak hanya dilihat dari keturunannya tetapi juga dari pemikirannya. LATS harus diisi oleh orang-orang Sumbawa yang memiliki pengetahuan, kemampuan, ikhlas bekerja, dan mau bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan kita Kerik Selamat Tahu Ke Tana Samawa dengan selalu ingat pada Ketakit Ko Nene, Kangela Bowat Lenge. Kalau hanya mempersoalkan keturunan dan darah, kita tidak akan kemana-mana,” tutup beliau.

Reportase dan Tulisan: Yuli Andari Merdikaningtyas.

  • Share on :